Johorejo - Hikmah Nuzulul Quran Dalam Berdesa

Hikmah Nuzulul Quran Dalam Berdesa

repro inews.id

KENDAL, Minggu, 17 April 2022.

Oleh : Sukron Adin

Setiap 17 Ramadhan kita memperingati Nuzulul Quran atau dimaknai sebagai awal turunnya al Quran yaitu saat Rasulullah Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril di Gua Hira.

Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW menerima wahyu Q.S. Surat Al Alaq 1-5 yang berbunyi sebagai berikut : 

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ

Artinya : Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ

Artinya : Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

Artinya : Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya : Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Peristiwa pertama kalinya al Quran diwahyukan kepada Muhammad SAW atau Nuzulul Quran juga sebagai momentum penasbihan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

Sebagaimana kita ketahui bahwa turunnya al Quran secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari, mengandung hikmah, cara Allah SWT memperteguh hati Nabi Muhammad SAW selama mengemban tugas menjadi Rasul, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Furqon ayat 32 :

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَٰحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَٰهُ تَرْتِيلًا

Artinya: “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).” (QS. Al Furqan: 32)

Peristiwa agung Nuzulul Quran bisa dijadikan bahan muhasabah (perenungan) kita sebagai Aparatur Pemerintah Desa dalam mengelola desa (berdesa), apakah itu?

Yang pertama, wahyu bertama berbunyi ٱقْرَأْ yang artinya bacalah, sebuah perintah dari Allah SWT bahwa kita harus membaca, membaca dalam arti harfiah ataupun maknawiyah. Dalam kehidupan kita sebagai manusia tidak pernah lepas dari membaca, membaca literasi (teks) dan membaca alam semesta ciptaan Allah SWT atau membaca ayat qauliyah dan membaca ayat qauniyah.

Begitu juga saat berdesa, kita juga harus rajin membaca, membaca literatur seperti regulasi (peraturan perundang-undangan) yang mengatur desa karena peraturan tentang desa baik Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Perpres, Keppres, Peraturan Menteri, Perda dan sebagainya sangat dinamis.

Dalam berdesa kita harus selalu mengikuti perkembangan regulasi, tidak boleh mengatakan "ini kebiasaan sejak dulu", "ini kata pamong desa senior" dan sebagainya, sehingga tidak mengikuti aturan yang sudah berubah.

Aparatur Pemerintah Desa juga harus bersedia membaca keinginan warga desanya, karena pembangunan di desa bersifat partisipatif atau berdasarkan keinginan masyarakat bukan keinginan Aparatur Desa, makanya mekanisme musyawarah desa perencanaan harus dilaksanakan sepenuh hati.

Perenungan kedua yaitu al Quran diturunkan secara gradual atau berangsur-angsur, hikmah yang bisa kita petik adalah dalam berdesa pun kita butuh proses dan perlahan-lahan tidak sekaligus. Pembangunan di desa tidak bisa serta merta, desa langsung bagus tetapi harus dibangun dengan berangsur-angsur, setahap demi setahap. Semuanya butuh kesabaran agar semuanya menjadi baik.

Nuzulah Quran memberikan pelajaran berharga untuk selalu bersikap dinamis terhadap perkembangan, asalkan kita terus membaca dan membaca, tetapi di sisi lain mengajarkan kita untuk selalu sabar dengan proses, karena tahap kehidupan termasuk pembangunan di desa dilaksanakan secara gradual.

 

PENULIS adalah Sekretaris Desa Johorejo, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal 

Alumni Program Pascasarjana UIN Walisongo Tahun 2005


Dipost : 17 April 2022 | Dilihat : 958

Share :

s